Header Ads

Header Ads
Selamat Datang di Website www.suarabamega25.com " KOMITMEN KAMI MEMBANGUN MEDIA YANG AKURAT DAN BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT " Alamat Redaksi Jl. Berangas KM. 2.5 No. 20 RT. 05 Desa Batuah Kotabaru Kalsel, Contact Mobile : 0812-5317-1000 / 0821-5722-6114.

Pemilu, Dan Serangan"Ganti Pakoleh" Oleh: Noorhalis Majid


Suarabamega25com - Wajar saja warga menerima pemberian uang. Sebab, berapa lama waktu terbuang untuk datang ke TPS? Bila itu digunakan untuk bekerja, pastilah menghasilkan uang. Kalau hari itu harus libur, siapa yang menanggung pengeluaran sehari? Sedangkan bekerja saja hasilnya tidak memadai, tidak mencukupi makan sehari. 

Itulah argument yang sering muncul untuk membenarkan money politik. Sehingga uang suap berubah nama menjadi pengganti waktu. Bila tidak ada uang pengganti waktu, akan banyak yang golput. Apalagi bila tidak ada alasan kuat berpartisipasi menyukseskan pemilu. 

Pengganti waktu atau konpensasi dalam kebudayaan Banjar, disebut dengan “ganti pakoleh”. Maksud dari ungkapan ini, bahwa waktu harus dihargai, jangan terbuang percuma. Apalagi ketika sehari bekerja untuk makan sehari. Bila tidak bekerja, tidak ada pendapatan untuk hari itu. Pakoleh seratus ribu, harus dibayar seratus ribu pula. 

Tentu saja tidak benar “ganti pakoleh” menjadi dalih tindakan money politik. Karena pemilu yang jujur dan adil, menentukan masa depan. Setidaknya menentukan nasib warga 5 tahun kedepan. 

Jangan mengeluh kalau nanti harga-harga melambung tinggi, tarif listrik dan air mahal, pajak dinaikkan sesuka hati, biaya kesehatan dan pendidikan tak terjangkau, dan korupsi merajalela. Karena semua itu buah dari kebijakan politik yang berawal dari hasil Pemilu.

Pertaruhan “ganti pakoleh” tentu lebih dari sekedar seratus atau dua ratus ribu. Lebih dari sekedar pengorbanan pendapatan sehari. Namun menyangkut “pakoleh” warga untuk mewujudkan kesejahtraan bersama selama 5 tahun. 

Tinggi atau rendahnya partisipasi, tidak akan mengubah kuantitas anggota legislatif maupun presiden. Jumlahnya tetap sesuai rencana. Yang berbeda mungkin kualitasnya. 

Apabila partisipasinya rendah, karena hanya datang ke TPS kalau dibayar, maka kualitas pemilu pasti menurun. Warga justru mempertaruhkan “ganti pakoleh” selama 5 tahun. (nm)

Tidak ada komentar: