Header Ads

Header Ads
Selamat Datang di Website www.suarabamega25.com " KOMITMEN KAMI MEMBANGUN MEDIA YANG AKURAT DAN BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT " Alamat Redaksi Jl. Berangas KM. 2.5 No. 20 RT. 05 Desa Batuah Kotabaru Kalsel, Contact Mobile : 0812-5317-1000 / 0821-5722-6114.

Memulihkan Alam Pikiran Demokrasi Oleh: Noorhalis Majid


Suarabamega25.com - Melihat fenomena dan dinamika Pemilu 2024, dapat disimpulkan demokrasi bukan lagi dibajak dan dikebiri, sebagaimana banyak penelitian menyimpulkan seperti itu, tapi lebih parah lagi, diporak-porandakan menjadi amburadul, berantakkan dengan berbagai bentuk kecurangan dan “main kayu.

Okelah, kalau situasi sudah tidak dapat dicegah, harus ada pergerakan masyarakat sipil dan partai politik memulihkan demokrasi, setidak memulihkan alam pikiran demokrasi dengan menghadirkan oposisi.

Sebab, pada hakekatnya demokrasi memang oposisi. Agar ada yang berteriak lantang, saat kebijakan dibuat namun tidak mengutamakan kepentingan warga. 

Tidak bisa disesali terjadi seperti ini, karena demokrasi yang diharapkan berjalan ideal, berada pada situasi yang sangat menyedihkan, dimana terdapat 19,9 juta orang miskin yang setiap hari kelaparan, dan dibuai mimpi datangnya sembako yang akan menolong hidup mereka. 

Tingkat pendidikan pun sangtlah rendah, mayoritas hanyalah kelas 7 atau setara kelas 1 SMP, sebagian lainnya beruntung hingga kelas 2 SMP. Dengan situasi kemiskinan dan tingkat pendidikan yang dipelihara rendah seperti itu, maka demokrasi dapat dikendalikan dengan bantuan sosial, dan pemenangnya adalah yang mampu mengatur kapan bantuan sosial tersebut diberikan. 

Perjuangan utama yang harus dilakukan oleh kelompok oposisi, adalah mendorong agar warga mau berpikir kritis melihat keadaan. Hanya dengan cara seperti itu, dapat memulihkan demokrasi, setidaknya pulih pada tingkat alam pikiran. Karena hanya dengan berpikir kritis demokrasi menjadi pulih.  

Tentu saja demokrasi dimaksud adalah yang mengutamakan kesetaraan, keadilan, penegakan hukum, transparansi, dan berbagai bentuk partisipasi warga. Bukan proses tata kelola negara yang ditentukan dan dikendalikan oligarki, yang hanya memperkaya segelintir orang.

Sebelum terbentuk oposisi permanen, biarlah tumbuh berbagai pikiran pesimis namun rasional, agar lahir kesadaran berpikir kritis alternatif, semoga dengan itu mampu memulihkan alam pikiran demokrasi. 

Tidak ada komentar: